Selasa, 31 Oktober 2006

so sweet so chocolate

Rambut merupakan mahkota setiap manusia yang bisa memberi efek sangat besar bagi penampilan seseorang. Dan tampaknya kini semakin banyak orang yang sadar bahwa rambut merupakan bagian dari fesyen, karenanya mengikuti tren rambut terkini sepertinya sudah menjadi kewajiban.Untuk mendapatkan bentuk rambut yang sangat berbeda dengan bentuk aslinya,


kita bisa melakukan banyak cara, salah satunya adalah dengan teknik pewarnaan.Jika dulu alasan orang melakukan pewarnaan adalah untuk menutup uban (peacock), kini alasan tersebut telah bergeser untuk kepentingan penampilan dan fesyen.Karenanya, memilih warna hitam pekat sebagai warna rambut sudah mulai ditinggalkan. Di samping rambut menjadi tampak tidak alami, warna rambut hitam yang solid membuat model rambut tidak terlalu terlihat. Semakin terang warnanya, semakin terlihat potongan dan alur rambut.Di tahun 2006 ini, beberapa produsen pewarna rambut ’sepakat’ memilih warna coklat sebagai tren warna rambut mendatang. Sebut saja Wella, produk asal Jerman ini beberapa waktu lalu mengeluarkan berbagai seri warna coklat yang disebut Frosty Brown. Warna dalam seri koleksi ini adalah perpaduan unsur warna coklat dan keabuan yang menciptakan sebuah kombinasi warna dengan efek hangat sekaligus dingin. Dari Indonesia, Johnny Andrean dan tim artisitiknya mengeluarkan tren warna coklat yang mengkombinasikan warna coklat serta gaya keriting yang natural dengan potongan rambut shaggy. Tren terbaru ini dinamakan Sweet Chocolate.Menurut Johnny, warna coklat merupakan warna favorit di salon-salon. "Demand terhadap warna coklat sangat tinggi, selain itu warna coklat cocok untuk wanita Indonesia karena terlihat lembut dan elegan," kata pria alumni L’Oreal International Academy di Paris itu.Coklat yang identik dengan rasa manis, oleh Johnny, yang berkolaborasi dengan L’Oreal, disajikan dalam tiga pantulan warna, yaitu candy chocolate, golden chocolate dan wine chocolote. Candy chocolate terinspirasi dari manisnya gula-gula coklat, menghadirkan permainan warna coklat yang fun, ditujukan untuk mereka yang berjiwa muda dan dinamis. lden chocolate terinspirasi dari pancaran matahari sore yang hampir tenggelam, dengan nuansa warna keemasan yang mampu memberikan kesan glamour. Sedangkan wine chocolate yang merupakan pantulan coklat kemerahan, terinspirasi dari wine yang biasa dinikmati dalam gala dinner, memberikan kesan anggun.Pilihan warna-warna tadi juga dicoba oleh beberapa selebritis ibukota, antara lain Sophie Navita, Alexandra Gutardo, Ade Herlina, dan Iwet Ramadhan, yang terlihat lebih glamor dan chic.
Keriting yang natural
Tekstur rambut wanita Indonesia pada umumnya, menurut Johnny, cenderung tipis dan agak berminyak. Karenanya ia menawarkan gaya rambut keriting yang alami, segar dan dinamis. Johnny menggarisbawahi bahwa rambut lurus akan semakin sempurna jika diberikan sedikit gelombang atau ikal rambut untuk memberikan kesan muda dan modern dalam penampilannya. Gelombang pada rambut juga akan semakin menonjolkan warna dan gaya rambut.Pada kesempatan yang sama, Johnny juga memperkenalkan teknik pengeritingan terbaru yang disebut ceramic digital perm untuk menghasilkan keriting dengan gelombang besar (body wave) sehingga terlihat alami, lentur dan sehat berkilau. Untuk memberikan kesan lebih ringan, gaya rambut keriting tadi bisa ditunjang dengan potongan rambut shaggy, sehingga tak hanya terlihat lebih dinamis namun juga fashionable karena sesuai dengan potongan rambut masa kini yang bertekstur. (An)

Selasa, 17 Oktober 2006

alasan menulis jurnal

-menulis jurnal membantu kita mengingatkan kembali hal-hal yang terjadi dalah hidup.
Kadang menyenangkan kalau bisa melihat kembali apa yang kita lakukan dan fikirkan bulan lalu, tahun lalu, atau bahkan tahun sebelumnya. Sangat mengagumkan melihat betapa kita telah berubah dan berkembang.

- menulis jurnal membantu mengerti diri sendiri.Dalam jurnal,kita mungkin menulis hal-hal yang penting buat kita.Melihat kembali apa aja yng telah kita tulis bisa membantu kita lebih mengenal diri sendiri.

-menulis jurnal membantu kita mengatasi perasaan-perasaan yang kita alami. Menuliskan apa yang kita rasa membuat perasaan-perasaan tersebut tampak lebih mudah diatasi.

kau dimana

Entahlah kau kini dimana?....
entahlah kau kini juga dengan siapa?

kepedihan yang tertanam setelah kita sendiri-sendiri
kini tetap ku simpan menjadi kenangan..
aku masih ingat saat kau bersandar di dadaku
dan ku timang wajahmu yang sayu..
lalu kau bercerita semua tentang hari-harimu
dan ku satukan harimu dengan ceritaku..
seolah tak terpisahkan

tapi siapa yang bisa mengekang takdir?
aku dan kau tentukan jalan sendiri-sendiri

sekarang setelah 6 tahun yang silam

ditengah bahagiaku setelah susah payah melupakanmu
aku senantiasa mengingatmu
kau dimana?
semoga kau juga telah menemukan bahagia


Minggu, 08 Oktober 2006

Menembus Batas dengan Intuisi

KapanLagi.com - Intuisi bukan bersifat feminin atau maskulin. Terkadang kita mendengar orang berbicara tentang "intuisi feminin" karena intuisi dianggap lebih berhubungan dengan aspek "perasaan" yang menjadi kodrat setiap manusia.

Pada kenyataannya, intuisi hadir secara merata baik dalam diri laki-laki maupun perempuan. Biasanya perempuan lebih intuitif dalam pemahaman mereka terhadap orang lain, sementara laki-laki sering lebih intuitif dalam bidang pekerjaan mereka.

Sebenarnya, intuisi adalah perasaan yang tenang dan impersonal. Perempuan terbiasa hidup dengan perasaan, lebih dalam bentuk emosi, sementara itu laki-laki cenderung lebih impersonal. Kombinasi dari dua sifat inilah yang menghasilkan intuisi.

Intuisi berasal dari alam bawah sadar kita yang merupakan bagian dari diri yang lebih tinggi dan merupakan bagian dari seluruh makhluk hidup. Alam ini merupakan kekuatan intelijen yang bekerja melalui kesadaran akan semua hal, dan mampu menanggapi pikiran setiap manusia.

Dalam menggunakan tuntunan yang sejati, kita perlu memahami bahwa intuisi merupakan kondisi kewaspadaan yang secara terus-menerus berevolusi dan selalu beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan kita. Berikut ini adalah beberapa hal penting yang bisa membantu Anda dalam mengikuti intuisi Anda demi mendapatkan hasil yang terbaik:

KESEDIAAN UNTUK BERTINDAK
Kebanyakan orang takut untuk bertindak sebelum menerima kepastian definitif bahwa tuntunan mereka sangat benar. Keraguan ini cenderung menghalangi aliran intuisi, sehingga tuntunan itu akhirnya semakin mengering. Bertindak berdasarkan intuisi layaknya mengambil air dari sumber air alami. Semakin Anda terus menggunakannya, semakin besar salurannya dan semakin melimpah aliran airnya.

INTUISI MUNCUL DENGAN CARA-CARA TAK TERDUGA
Ketika Anda sungguh-sungguh berusaha untuk mengikuti tuntunan batin, alam bawah sadar akan membantu Anda dengan cara-cara yang luar biasa. Mungkin ketika Anda sedang istirahat atau berjalan-jalan, intuisi itu muncul secara tiba-tiba. Segeralah ambil secarik kertas dan tuangkan semua ide Anda seketika itu juga, karena momen tesebut tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

JANGAN PUTUS ASA KARENA RINTANGAN
Pertama kalinya ketika berusaha mengikuti intuisi, Anda mungkin akan menghadapi banyak rintangan dan kesulitan. Anda mungkin berpikir: "Saya rasa tidak seharusnya saya melakukan hal ini," tetapi semua rintangan itu sebenarnya adalah ujian yang berharga bagi Anda. Cobalah untuk melihat penghalang langkah Anda sebagai kesempatan untuk mengerahkan lebih banyak energi ke arah pencapaian tujuan Anda.

DENGARKAN SETIAP LANGKAH DARI INTUISI
Jika Anda tidak merasakan kejelasan yang kuat dari intuisi Anda, jangan bertindak dengan kekuatan penuh. Melangkahlah satu per satu. Tetapi jika langkah Anda tidak terasa benar, jangan melangkah terlalu banyak. Untuk menyeimbangkan kekuatan intuisi, berilah kesempatan pada diri Anda melakukan koreksi secara teratur.

GUNAKAN PENGUJIAN AKAL SEHAT
Saat bekerja dengan intuisi, jangan mengabaikan perintah-perintah sederhana dari penilaian Anda sendiri, karena alam semesta diatur oleh hukum-hukum yang perlu diperhatikan. Jadi jika intuisi meminta Anda untuk loncat dari atas tebing, gunakanlah akal sehat dan taatilah hukum gravitasi sampai petunjuk lebih lanjut datang.

BEKERJASAMA DENGAN ORANG LAIN
Jangan memaksakan intuisi Anda pada orang lain dalam melakukan sesuatu, karena mereka juga memiliki tuntunan sendiri. Ketika bekerja bersama orang lain, bagikanlah tuntunan batin Anda sebagai suatu kemungkinan alternatif daripada sebagai sesuatu yang mutlak. Dengan menyimpannya di dalam hati, tuntunan Anda akan tumbuh semakin kuat sepanjang waktu.

Jadi jangan pernah ragu untuk selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan intuisi. Bahkan jika tindakan kita mengarah ke jalur yang salah, namun bila kita dengan tulus meminta tuntunan batin, niscaya kita akan diarahkan kembali ke jalan yang benar.

Untuk menyelaraskan diri kita dengan aliran alam bawah sadar, kita harus hidup dengan cara yang berani dan gigih. Kita juga harus menyeimbangkan upaya kita dengan kerendahan hati dan keterbukaan pada segala sesuatu. (bsb/dni)


http://www.kapanlagi.com/a/0000002427.html


peranan intuisi dalam kreativitas

Jules Henri Poincar(1854-1921) dianggap sebagai salah seorang ilmuwan terbesar dan paling kreatif yang pernah dimiliki Prancis. Selain dikenal sebagai ahli matematika, dia juga terkenal dengan sumbangannya di dunia fisika teoritis dan ahli filsafat ilmu pengetahuan. Sepanjang hidupnya, dia berhasil merumuskan banyak penemuan penting seperti Fuchsian series, meletakkan landasan untuk teori khaos, fraktal, dan prinsip-prinsip dasar teori relativistas.


Yang menarik di sini adalah bagaimana Poincare berhasil memakai intuisinya untuk membantunya melakukan penemuan penting. Menurut penuturannya sendiri, dia berusaha selama 15 hari untuk membuktikan sebuah teka-teki matematika yang selama ini belum bisa dipecahkan. Setiap hari dia duduk di meja kerja selama satu atau dua jam, mencoba berbagai kombinasi dan tanpa hasil. Lalu suatu sore, berlawanan dengan kebiasaannya, dia meminum kopi hitam dan tidak bisa tidur. Tiba-tiba, ide datang secara bertubi-tubi. Ide-ide tersebut bertabrakan dan akhirnya menyatu dalam kesatuan, atau menurut istilah Poincare, membuat kombinasi yang stabil. Keesokan harinya dia hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk menuliskan hasilnya. Kristalisasi tahap pertama telah terjadi.


Dia lalu menjelaskan bagaimana kristalisasi tahap kedua terjadi, yang dibantu oleh analogi. Dia meninggalkan Caen, dimana dia tinggal, untuk pergi ke sebuah perjalanan penggalian geologi. Perubahan lingkungan tersebut membuatnya melupakan matematika. Suatu ketika, ketika dia sedang memasuki sebuah bus, dan kakinya berada di tangga bus, sebuah ide datang, tanpa ada pikiran sadar yang mencoba mengarahkannya. Dia tiba-tiba menyadari bahwa transformasi yang digunakan untuk mendefinisikan fungsi baru yang sedang ditelitinya identik dengan transformasi yang dipakai oleh persamaan geometri lain. Dia tidak memverifikasi ide tersebut, namun dia yakin sepenuhnya. Belakangan dia baru melakukan verifikasi di waktu luangnya ketika kembali ke Caen.


Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah tanda kejeniusan Poincare, tetapi dia tidak puas dengan penjelasan sederhana tersebut. Dia berusaha mencari penjelasan yang lebih mendalam.


Poincare kemudian membuat hipotesa bahwa proses seleksi tersebut dilakukan oleh apa yang disebutnya sebagai subliminal self. Diri subliminal ini, menurut Poincare, akan mengevaluasi kombinasi yang luar biasa banyaknya yang mungkin menghasilkan solusi atas masalah, tetapi hanya kemungkinan solusi yang menarik yang akan muncul ke kesadaran. Solusi atas masalah matematika diseleksi oleh diri subliminal berdasarkan ‘keindahan matematisnya’.


Kondisi yang sama mungkin juga dialami oleh Archimedes ketika mencapai momen Eurekanya. Konon kabarnya dia sedang duduk santai di bak mandinya ketika ide yang membuatnya terkenal itu muncul mendadak. Atau ketika Friedrich August von Kekule bermimpi tentang ular yang melingkar, menggigit ekornya sendiri, yang membawanya menemukan struktur molekul benzena yang terdiri dari atom-atom karbon yang membentuk lingkaran. Juga ketika Louis Agassiz menemukan cara untuk mengekstrak fosil tanpa merusaknya dari bebatuan, dan Otto Loewi menemukan dasar kimiawi untuk transmisi neural yang membuahkan Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1936.


Cerita-cerita tersebut menarik perhatian orang yang belajar kreativitas karena kemunculannya dari alam “bawah sadar”. Bahkan sekitar seratus tahun yang lalu (tepatnya tahun 1926), seorang insinyur dan ahli psikologi Graham Wallis sudah menyelidiki fenomena pikiran “bawah sadar” atau intuisi ini dan membangun sebuah model untuk menggambarkan cara kerja proses kreatif, yang terdiri dari 4 tahapan:


Tahap persiapan. Pada tahap ini, kita mendefinisikan masalah atau tujuan, dan mengumpulkan semua informasi terkait, dan menentukan kriteria untuk memverifikasi apakah sebuah solusi bisa diterima atau tidak.


Tahap inkubasi. Pada tahap ini, kita mundur dari persoalan dan membiarkan pikiran kita bekerja di belakang layar. Sama seperti tahap persiapan, tahap ini bisa berakhir dalam beberapa menit, minggu, atau bahkan bertahun-tahun.


Tahap iluminasi. Pada tahap ini, ide-ide bermunculan dari pikiran yang menyediakan dasar untuk respons kreatif. Ide-ide tersebut bisa berupa bagian-bagian dari keseluruhan, atau langsung keseluruhan. Berbeda dengan tahapan lainnya, tahap ini berlangsung singkat dan sering berupa inspirasi sesaat yang intens. Momen Eureka Archimedes atau mimpi Kekule termasuk pada tahapan ini.


Tahap verifikasi. Tahap ini merupakan tahapan terakhir di mana pengujian dilakukan untuk menentukan apakah inspirasi yang diperoleh dari tahap sebelumnya memenuhi kreteria dan keinginan yang ditentukan pada tahap persiapan.


Dari model ini, kita melihat bagaimana Wallis mengakui adanya kerja sama yang erat antara alam pikiran sadar yang berpikiran rasional (pada tahap persiapan dan verifikasi) dengan alam bawah sadar yang bercorak intuitif (pada tahap inkubasi dan iluminasi) untuk membantu pemecahan masalah yang kreatif. Intuisi, tampaknya, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Peranannya dalam penyelesaian masalah sangat besar dan tidak kalah dengan cara berpikir rasional. Ilmuwan yang dulunya skeptis sekarang mulai dengan serius menyelidiki fenomena ini.


Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda percaya dengan intuisi? Apakah Anda pernah mengalaminya sendiri?




http://www.itpin.com/blog/2006/09/18/peranan-intuisi-dalam-kreativitas/


Merasakan, Insting atau Ilham ?

(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")

Seorang umat wanita menceritakan bahwa dirinya kalau lagi sendirian sambil tiduran, merasa ada sesuatu muncul mengajak bercakap-cakap, kadang kalau udah kelamaan dia akan bilang, udah bobo, mandi dulu, belajar dulu dsb. Yang menjadi kendala dari umat wanita ini, setelah itu dirinya tidak bisa mengingat seluruhnya, hanya beberapa aja, intinya yang kadang mengajarkan akan kesambaran dan cinta kasih. Dan yang menjadi pertanyaan umat wanita ini, apakah ini adalah Kesadaran, Insting, atau Ilham ?

Untuk menjelaskan masalah umat wanita ini, saya mengajaknya untuk beharti-hati:
Jika Buddha Datang, kedatanganya seperti RAJA SETAN YANG LAGI MARAH, Tetapi kalau SETAN datang, Kedatangnya seperti BUDDHA.

Setan datang, pasti bicaranya yang baik-baik, mengajar yang baik, dsb. sebab kalau setan datangnya, langsung berbicara dan mengajar jahat, semua orang udah tahu itu pasti setan.

Satu hal yang harus dipahami oleh para pembina Ajaran Kesadaran Sejati, apapun bentuknya gambaran yang timbul dalam kesadaran yang jernih itu adalah Gambaran Pikiran. Walaupun mengajarkan segala kebaikan, memberikan ide dan jalan keluar, memberitahukan kejadian yang belum terjadi, meramal, hingga mengajar yang tidak baik, dsb. Semua yang memperdaya Kesadaran Sejati, adalah bentuk dari jelmaan Gambaran Pikiran. Berhati-hatilah dengan jelmaan gambaran Pikiran, yang selalu memperdaya Kesadaran Sejati.

Bila Kesadaran Sejati selalu terjenihkan, apa yang dirasakan adalah Apa adanya saat ini juga, “Keadaan ini yang seperti ini adanya, TITIK”

Insting dan Kesadaran juga jauh berbeda. Jika dalam kehidupan binatang, mereka banyak mengandalkan instingnya. Seperti, seekor penyu yang lahir dipantai, setelah menetas mempunyai insting untuk berenang kelaut. Seekor anak macan yang baru lahir, tidak takut melihat ibunya. Alamiah dari kekuatan insting ini yang membuat mereka demikian, dan pengaruh insting ini sebenarnya bersumber dari ikatan-ikatan karma kehidupannya masa lampaunya. Secara kasarnya, saya dapat mengatakan bahwa manusia yang meninggal dengan keterikatan pikiran akan rasa takut, rasa serakah, rasa rakus, dan hawa nafsu, akan memiliki alamiah dilahirkan menjadi binatang yang memiliki insting-insting yang demikian.

Berbeda dengan kelahiran manusia, yang memiliki kemampuan lebih dari sekedar insting, alamiah manusia memiliki Akal Budi dan Kesadaran yang harus dibina dan dikembangkan. Manusia tidak boleh mengandalkan instingnya saja. Jika kehidupan binatang semakin tua, instingnya semakin kuat dan tajam, tetapi kehidupan manusia yang memiliki akal budi dan kesadaran, semakin tua seharusnya semakin welas asih dan bijaksana.

Masalah kata Ilham, mencangkup pengertian yang sangat luas. Untuk ini, saya membatasi kata Ilham, dalam arti ‘Bisikan dari dalam’. Bisikan ini bisa berasal dari PIKIRAN sendiri atau yang lainnya.

Satu hal yang harus dipahami oleh para pembina Kesadaran Sejati, bahwa KESADARAN tidak mungkin menimbulkan Ilham. Bagaimana telinga dapat mendengar telinga sendiri ? Bagaimana mata dapat melihat mata sendiri ?

Dalam masalah ilham, jika bisikan ini bersumber, timbul atau diterima oleh Pikiran, maka kemungkinan besar bisikan ini berasal dari Gambaran Pikiran itu sendiri, atau dari gambaran pikiran lainnya, seperti roh dan setan gentayangan.

Walau pada pembinaan tahap spiritual tertentu, tidak menutup kemungkinan alamiah Kesadaran Sejati yang dapat menangkap sesuatu seperti ilham atau bisikan dari alamiah alam Mahluk Suci. Pencapaian ini hanya bisa dicapai bila Kesadaran Sejati telah mencapai tingkat kejernihan yang lebih tinggi, sehingga Kesadaran Sejati dapat mencapai alamiah Kesadaran Mahluk Suci.

Hanya dengan tingkat Kejernihan Kesadaran Sejati, maka Kesadaran Sejati baru dapat menangkap alamiah Ilham dari Alam Mahluk Suci.
Mengapa ? Karena Tingkat Mahluk Suci itu hanya bisa dicapai dengan Kesadaran Sejati yang jernih. Mahluk Suci itu adalah mahluk yang memiliki kesadaran sejati yang telah terbebaskan dari segala gambaran kemelekatan pikiran. Maka dari itu , hanya dengan kesadaran sejati yang jernih, baru dapat menangkap alamiah dari alam dari Mahluk Suci.

Pahamilah bahwa alamiah timbulnya roh-roh gentayangan, setan-setan penasaran, dsb. Itu ada karena kemelekatan gambaran mereka sendiri, yang tidak memahami kesadaran sejatinya. Sehingga kita mengenal banyak roh-roh gentayangan dari mereka yang meninggal karena dibunuh, bunuh diri, dsb. Ketidak wajaran pada proses kematian, dan ketidak terimaan mereka akan kematiannya, akhirnya menjadikan gambaran pikiran yang demikian menjadi roh-roh gentayangan.

Dengan demikian, saya mengingatkan kembali kepada para pembina Kesadaran Sejati:

Jika Pikiran masih memperbudak, dan Jika Kesadaran masih belum terjenihkan selalu. Tidak mengherankan bila kita hanya dapat mendengar Bisikan-Bisikan roh dan setan yang gentanyangan saja.

Saya pastikan bahwa TIDAK MUNGKIN dapat merasakan, mendengar, melihat, apalagi memahami alamiah Mahluk Suci Tingkat Tinggi, dengan PIKIRAN.

Berhati-hatilah dengan mereka yang mengaku-ngaku memiliki kemampuan spiritual, tetapi mereka sendiri masih diperbudak oleh Pikiran sendiri.

— Namo Uci Yauw Ce


http://www.goldenmother.org/info/Kisah-Kasih/L-M/Merasakan,%20Insting%20atau%20Ilham.htm

Mari Membalik Hirarki !

Mari Membalik Hirarki !
Oleh: Ubaydillah, AN


Jakarta, 8 September 2006


Hirarki Maslow
Konon, sebelum wafat, Abraham Maslow, Bapak Penggagas Hierarki Kebutuhan itu, sempat menunjukkan penyesalannya. Teori motivasi yang digagasnya itu mestinya perlu direvisi. Apanya yang perlu direvisi? Menurut yang ditulis Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya Spiritual Capital (Mizan: 2005), katanya, Hierarki Kebutuhan yang digagasnya mestinya perlu dibalik.

Seandainya itu benar-benar kejadian, maka yang paling bawah bukanlah kebutuhan fisik (fisiologis), melainkan aktualisasi-diri. Maslow menyesal karena teori yang sebenarnya dimaksud untuk memaparkan problema masyarakat saat itu, mengilhami orang-orang tertentu untuk menjadi tamak dan terus-terusan memikirkan kebutuhan fisiknya, kebutuhan ragawinya. Di sisi lain, seperti yang kerap kita dengar, teori ini juga banyak “dimanfaatkan” oleh orang-orang malas untuk menjustifikasi kemalasannya dengan alasan kebutuhan fisik.

Sebagaimana kita ketahui, Maslow mengeluarkan teori motivasi yang diasaskan pada kebutuhan manusia dalam bentuk gambar piramida (kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, aktualisasi-diri). Tak tahunya, teorinya ini bisa dibilang termasuk yang paling mashur dan telah dijadikan pedoman banyak orang.

Kalau membaca buku-buku manajemen yang beredar, ada sedikitnya tiga penjelasan dari teori Maslow itu. Pertama, setiap tingkatan atau hierarki, harus dipenuhi lebih dulu sebelum tingkatan berikutnya diaktifkan. Orang tidak terdorong untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan sosial sebelum kebutuhan fisiknya dapat dipenuhi. Orang tidak terdorong untuk mengaktualisasikan dirinya sebelum kebutuhan lain-lain terpenuhi.

Kedua, setelah satu kebutuhan dipenuhi, kebutuhan tersebut tidak lagi dapat memotivasi perilaku seseorang. Tingkatan kebutuhan di atas hanya bisa diibaratkan seperti pintu masuk. Jauh sebelum kita sampai rumah, yang kita tuju adalah pintu masuk rumah. Begitu kita sudah sampai di depan rumah, kepentingan kita dengan pintu masuk hanyalah untuk bisa melewatinya.

Jika ini dikaitkan dengan usaha memotivasi orang, maka yang diperlukan adalah mengetahui sudah sampai pada hierarki ke berapa kini orang itu berada. Seandainya orang itu masih berada pada hierarki fisiologi lantas dimotivasi untuk melakukan hal-hal yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhan sosial, ini mungkin tidak kena. Paling-paling dia akan jawab: “wong cari makan aja susah, masak diajak yang nggak-nggak. . .”

Ketiga, Maslow memisahkan kelima kebutuhan itu menjadi dua tingkat, yaitu: tingkat atas dan tingkat bawah. Kebutuhan fisiologis dan keamanan digambarkanya sebagai kebutuhan tingkat bawah. Sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri digambarkannya sebagai kebutuhan tingkat atas. Kebutuhan tingkat bawah mendapatkan pemenuhan dari faktor eksternal. Sementara kebutuhan tingkat atas mendapatkan pemenuhan dari faktor internal.

Mengapa Aktualisasi Diri?
Jika kita harus ikut setuju juga dengan keinginan Maslow itu, mungkin kita punya beberapa alasan di bawah ini:

Pertama, tidak ada teori buatan manusia yang punya kesempurnaan mutlak. Semua menjadi relatif, tergantung konteks, tergantung metode, tergantung objectives, dan tergantung pada variable. Seperti yang difirmankan kitab suci, kesempurnaan mutlak itu hanya milik Tuhan.

Kedua, atas nama eksplorasi dan eksperimentasi, apa dosanya juga kalau kita mau membalik piramida itu. Toh itu hanya untuk diri kita sendiri. Kalau pun salah, toh tidak ada aparat hukum yang menjebloskan kita ke penjara. Tidak ada kesalahan yang terlalu fatal di sini.

Ketiga, kandungan manfaat. Manfaat? Sesungguhnya, yang dituntut oleh kehidupan dari diri kita ini, adalah menunjukkan siapa diri kita. Di tempat kerja, kita dituntut untuk menunjukkan siapa diri kita. Di keluarga, kita dituntut untuk menunjukkan siapa diri kita. Di masyarakat, kita dituntut untuk menunjukkan siapa diri kita.

Pendeknya, kehidupan ini menuntut kita untuk melakukan proses aktualisasi diri dan kehidupan ini tidak mau peduli sudah sampai hierarki mana kini kita berada. Kenyataan hidup ini ‘masa-bodoh’ dengan hierarki. Ini kalau kita merujuk pada pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan aktulisasi diri itu adalah:

“to realize fully one’s potential, to realize one’s mission, to realize the idea of becoming the best.”

Artinya, dalam keadaan apapun dan dalam situasi apapun, kita tetap dituntut untuk mengaktualisasikan diri kita. Jika ini dikaitkan dengan motivasi untuk berprestasi, di tempat kerja atau di manapun, mungkin kepentingan kita untuk membalik piramida itu bisa dijelaskan antara lain:

1. Aktualisasi potensi

Kalau berbicara tentang potensi manusia, ini mungkin referensinya sudah sangat banyak. Profesor anu berbicara ada sekian kecerdasan yang terpendam dalam diri manusia. Profesor anu lagi berbicara ada sekian bakat yang terpendam. Profesor lain lagi berbicara ada sekian kompetensi dasar. Kitab suci berbicara betapa hebatnya manusia itu dan sekaligus berbicara betapa lemahnya manusia itu. Intinya, seperti kesimpulan Daniel Goleman, seberapa pun kecerdasan manusia itu bisa diungkap, yang sanggup diungkap itu hanya sebagian dan sekian.

Meski terkesan ada perbedaan yang cenderung sulit disepakati tentang “istilah”nya, tetapi semuanya sepakat untuk satu hal, yaitu: potensi manusia itu selamanya tidak akan berubah menjadi prestasi selama tidak diaktualisasikan. Maslow sempat bicara: “Saat ini juga Anda sudah berada di dalam posisi yang tepat untuk melakukan apapun. Di dalam diri Anda sudah terdapat kapasitas, bakat, misi, arah hidup dan panggilan yang menyadarkan.”

Untuk mengaktualisasikan potensi menjadi prestasi, memang dibutuhkan banyak hal. Memang dibutuhkan banyak proses. Memang dibutuhkan banyak waktu. Memang dibutuhkan banyak uang. Memang dibutuhkan banyak fasilitas. Tapi, ini semua dibutuhkan setelah ada satu hal: munculnya motivasi dari dalam diri seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya.

Dipikir-pikir, katakanlah untuk kasus di Indonesia, ini lebih bermanfaat. Kalau kita menunda – bahkan menghentikan perjalanan meraih kebutuhan aktualisasi dengan alasan menunggu terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya dalam Piramida Maslow itu, maka pertanyaannya bukan masalah benar atau salah, tapi kapan bisa tercapai. . . .?

Barangkali inilah yang ikut andil atas munculnya fenomena di mana kebanyakan kita tidak pernah tahu apa potensi dan keunggulan kita, apa kompetensi dan kecerdasan dasar yang kita miliki - sampai kita meninggal dunia, padahal katanya potensi yang kita miliki itu banyak sekali. Ini benar-benar paradoks !!!

2. Bukti diri

Memunculkan dorongan aktualisasi diri juga kita butuhkan saat menghadapi realitas yang brutal atau bertentangan dengan keinginan. Realitas semacam itu sama artinya dengan halang rintang. Meski realitas itu tak berbicara, tetapi sebetulnya ia menawarkan tiga pilihan: a) apakah Anda akan mundur, b) apakah Anda akan diam, dan c) apakah Anda akan tetap memutuskan untuk melangkah maju dengan mencari jalan lain.

Kita pilih yang manapun, sebetulnya itu pilihan kita. Tak ada orang lain yang punya ruang ikut campur di sini. Cuma, pilihan yang kita jatuhkan itu adalah bukti siapa diri kita. Jika kita memilih mundur, itulah bukti siapa diri kita. Meski kita sanggup mengungkapkan beribu dalih, tapi dunia ini akan tetap mencatat itulah bukti siapa diri kita. Itulah kita yang mundur. Sebaliknya, jika kita memilih maju dengan mencari jalan lain, itu pulalah bukti siapa diri kita. Meski tidak ada koran yang menulisnya tetapi dunia ini akan mencatatnya sebagai rapor (report).

Kaitannya dengan bahasan kita ini adalah, jika kita menjadikan terpenuhinya kebutuhan fisik, keamanan, sosial dan lain-lain sebagai pra-syarat yang kita tetapkan untuk memulai langkah maju, dengan berlindung di balik Piramida Maslow, tentu kasihan sekali konsep itu. Piramida itu dikeluarkan untuk memotivasi manusia supaya lebih maju, tapi kini disalahgunakan untuk men-demotivasi.

Hal lain yang lebih krusial adalah sikap dunia. Dunia ini tidak punya kebijakan yang berbasiskan perasaan, seperti iba atau kasihan atas dalih yang kita kemukakan. Ketika kita mengambil keputusan mundur, dunia ini membalasnya dengan kemunduran. Ketika kita mengambil keputusan diam, dunia ini membalasnya dengan stagnasi. Ketika kita mengambil keputusan maju, dunia ini membalasnya dengan progresivitas. Ini diberikan dengan tanpa memandang hierarki kebutuhan.

Jadi, kita kedepankan atau kita “simpan” masalah aktualisasi diri itu, pada akhirnya dunia ini tetap menuntut untuk diawalkan, di kedepankan, di utamakan. Suka atau tidak, siap atau tidak, memang sudah begitu garisnya. Ini kalau kita bicara minimalnya untuk dua konteks di atas. Adapun untuk konteks lain, bisa jadi akan lebih bermanfaat kalau Piramida itu diikuti, misalnya untuk memotivasi anak buah atau karyawan.


Penggoda Bernama Desakan "Kebutuhan"
Menurut petuah klasik orang-orang bijak, jika Tuhan harus lebih banyak mengingatkan manusia tentang kehidupan dunia yang membahayakan dan kehidupan akhirat yang lebih menjanjikan, itu bukan berarti kehidupan dunia ini tidak penting. Dunia ini tetap penting, terlepas kita menganggapnya penting atau tidak.

Peringatan terhadap dunia itu dikeluarkan berkaitan dengan “the nature” manusia. Secara insting, manusia lebih tertarik dengan kehidupan dunia, target jangka pendek, dan hasil yang langsung kelihatan dan bisa dilihat orang lain, sekaligus bisa dinikmati sekarang juga. Manusia, by nature, kurang tertarik dengan kehidupan akhirat, yang nanti, yang tidak kelihatan langsung, dan yang tidak bisa dinikmati sekarang.

Jika Tuhan lebih banyak mengingatkan keutamaan intelektual, emosional dan spiritual (kualitas manusia), dan lebih banyak mengingatkan bahayanya kekayaan, perhiasan atau penampilan, itu bukan berarti semuanya itu tidak penting bagi manusia. Tapi, ini karena, secara nafsu, manusia lebih tertarik untuk mengejar kemewahan dengan harta ketimbang mengasah intelektualnya atau emosionalnya. Manusia lebih tertarik menunjukkan kekayaannya (show-off) ketimbang tertarik untuk meng-amal-kan (sebagian) kekayaannya kepada orang lain.

Jika itu semua kita jelaskan dengan bahasa manajemen, mungkin kebutuhan dunia (jangka pendek, kelihatan langsung) atau kebutuhan fisik manusia itu selalu berada pada level “urgent” dalam diri manusia. Sementara, kebutuhan yang berjangka panjang, kebutuhan yang mengarah pada terbentuknya kualitas manusia, dan semisalnya selalu ditempatkan pada level “important”.

Sayangnya, seperti pesan Covey, kebanyakan manusia lebih sering merasa terdesak oleh kebutuhan-kebutuhan urgent-nya dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan yang important. Covey menyebutnya dengan istilah keracunan desakan. Sebagai contohnya misalnya, adakah orang yang merasa terdesak untuk membaca buku, beramal, mengasah potensinya, dan semisalnya? Kalau pun ada, itu jumlahnya sedikit. Tapi, jika kita bertanya adakah orang yang terdesak untuk membeli teve terbaru, handphone terbaru, atau mobil keluaran baru, tentu ini jumlahnya terlalu banyak.

Kaitannya dengan motivasi berprestasi adalah, jika kita selalu menjadikan pemenuhan kebutuhan fisik (dalam pengertian yang luas), sebagai syarat mutlak untuk berprestasi, berkarya, berkreasi atau berbuat baik bagi manusia, kerapkali ini akan dikalahkan oleh dorongan kebutuhan yang tidak ada habisnya itu. Bahkan seringkali hanya berupa tipuan. Desakan kebutuhan fisik itu seperti air laut. Semakin banyak kita minum, semakin haus kita.

Karenanya, kepentingan kita untuk membalik piramida itu bukan untuk sebagai bahan menulis puisi bahwa Maslow telah gagal. Bukan untuk itu. Maslow telah “berijtihad” dengan kemampuannya dan untuk konteks tertentu masih tetap perlu dijadikan rujukan, misalnya untuk pimpinan organisasi. Kepentingan kita untuk membaliknya itu adalah agar kita tidak terjebak dalam upaya memenuhi kebutuhan fisik dan mengabaikan kebutuhan aktualisasi dengan berlindung di balik teori Piramida.

Dan lagi, kalau kita mau hitung-hitungkan sederhana, jika kita sudah mengaktualisasikan potensi yang kita miliki menjadi kumpulan prestasi yang terus bertambah dan mengaktualisaikan “siapa diri kita” dalam menghadapi realitas, masak sih kebutuhan fisik, kebutuhan sosial, dan lain-lain tidak terpenuhi sama sekali?

http://www.e-psikologi.com/pengembangan/080906.htm