Jumat, 29 September 2006

Pemegang Pedang Demokles

"SUNGGUH enak hidup di televisi. Tak ada bau, tak ada kecemasan, tak ada keributan. Waktu dihabiskan hanya untuk menyanyi. Sungguh enak hidup di televisi. Tak ada kebusukan, tak ada pemogokan, tak ada kemiskinan. Ada dokter, dermawan, ada sawah hijau, buruh-buruh gajinya cukup," ujar Gading mengutip puisi karya peraih Yap Thiam Hien Award 2002, Wiji Thukul, sembari menuding acara kuis "Who wants to be Millionaire" di televisi yang semua pesertanya para selebriti dan hadiah yang mereka peroleh disumbangkan ke dompet korban bencana alam.

"Kapan puisi itu ditulis? Pasti sebelum dia 'disukabumikan' pasca-kerusuhan 27 Juli 1996! Sayang, mantan buruh pelitur yang drop out-an SMKI itu tak sempat menyaksikan hingar-bingar dunia pertelevisian dewasa ini. Nyawanya keburu dicabut. Sekarang acara televisi Indonesia sudah seperti mosaik Picasso, penuh warna, garis, dan malah seperti tanpa bingkai," komentar Teril.

"Ya, kini di televisi kemewahan dan kemelaratan diaduk-aduk, sehingga tak jelas batasnya. Sains dan teknologi dicampur klenik. Utang luar negeri disulap jadi mobil dan rumah mewah sebagai lambang kegemerlapan konsumerisme. Demonstrasi buruh dan penggusuran hunian kaum miskin sama hiruk-pikuknya dengan gosip kawin-cerai dan perselingkuhan para selebriti. Mayat tercerai berai dan genangan darah, yang dulu hanya bisa dilihat di ruang forensik rumah sakit, sekarang hampir setiap hari tertayang di TV, lewat sinetron, film maupun berita kriminal. Karena semua bersifat virtual, bau busuk atau harum tetap tak bisa diendus," papar Kodek.

"Derita akibat bencana alam yang ditayangkan di televisi memang mampu memancing simpati para pemirsa untuk menyumbang. Herannya, ketika sumbangan dari dalam maupun luar negeri terkumpul, kok ada pihak-pihak yang memperkaya diri dengan menelikung bantuan itu. Apa ini yang disebut ekonomi postmo, dimana bukan hanya barang dan jasa diperdagangkan, duka dan nestapa pun dikemas jadi komoditas. Coba perhatikan korban bencana, sejak tsunami Aceh hingga gempa Yogyakarta, mereka kenyang makan janji. Memang benar pidato bahwa siapa pun yang memerintah tak akan berdaya menghadapi bencana beruntun yang dipercaya sebagai kehendak Tuhan. Tapi, kalau berani menyebut campur tangan Tuhan dalam urusan bencana, pertanyaannya, apakah Tuhan memberi cobaan yang sama pada setiap orang, baik dia pemimpin atau orang awam?" tanya Kama.

"Kepala saja beda bulunya kok! Ada yang keriting, kejur bahkan botak, begitu pula warnanya. Peruntungan masing-masing orang jelas tak sama. Keherananku pun tidak sama dengan keherananmu," sela Rubag.

"Nggak masalah! Pendapat, termasuk keheranan boleh beda, asalkan kau tetap mengatakan dirimu orang Bali dan bangsa Indonesia yang punya sikap saling asih, asah dan asuh. Lalu, apa yang kau herankan?"

"Pernyataanmu itulah yang menjadi fokus keherananku. Masihkah sikap asih, asah dan asuh itu ada di negeri ini, ketika menyaksikan bentrokan fisik massal yang akhir-akhir ini sering ditayangkan di televisi? Lihat ketika terjadi perang suku di Mimika, Papua. Bedanya, di Mimika ada korban mati dan luka sungguhan, sedangkan di Denpasar hanya sebuah parodi terhadap perilaku politik para elit di Indonesia. Aku heran, kok seakan-akan tak ada pejabat berkompeten yang merasa heran dan prihatin."

"Benar juga ya? Padahal, bentrokan itu diberitakan sudah berlangsung berhari-hari di tempat yang sama dengan korban luka dan mati terus berjatuhan. Ironis, di Bali tajen yang baru berlangsung dua seet saja digerebek. Apakah ini disebut 'Politik Pembiaran'? Wah, kalau begitu kita kembali ke periode seleksi alam lagi dong! Hanya yang terkuat yang boleh hidup!" celoteh Lonjong.

"Perang antara pribumi Amerika hanya terjadi dalam serial 'Wild Wild West' di film-film. Ketika Irian atau Papua Barat tetap dikangkangi Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Soekarno mengumandangkan Trikora untuk merebutnya kembali. Haruskah kita biarkan penduduk aslinya saling bunuh, padahal sejak 1963 mereka disuruh menghafal lagu Indonesia Raya dan bunyi Sumpah Pemuda?" kilah Kadek Prenget.

"Mudah-mudahan perang suku itu cepat-cepat berakhir. Aku ngeri membaca buku 'Gelombang Kematian' yang melaporkan genosida di Afrika yang terjadi dekade silam. Dilaporkan, sejak 6 April hingga 18 Juli 1994, dua suku di Rwanda saling bunuh akibat provokasi Radio Television de Milles Collines (RTLM). Suku Hutu yang mayoritas dikobarkan kebenciannya terhadap suku Tutsi yang minoritas, sehingga konon dalam tempo 100 hari 800 ribu orang terbunuh. Masihkah kita pongah menyebut diri mahluk tersempurna ciptaan Tuhan dan menjunjung Pancasila, kalau itu terjadi di sini?" tanya Kudil.

"Ihhh, ngeri! Bulu kudukku berdiri membayangkan kekejaman di luar akal sehat itu. Agaknya ungkapan sinis orang tentang Iptek, tidak sepenuhnya ngawur. Sains dan teknologi dianalogikan seperti Pedang Demokles bermata dua. Teknologi informasi yang dibangga-banggakan sebagai inovasi unggulan, ternyata jadi penyebab hilangnya ribuan nyawa seperti yang kau tuturkan. Tiga perang besar yang mengisi sebagian besar ruang dan waktu abad ke-20 dengan jutaan korban nyawa, juga berkat andil Iptek. Terorisme bom yang marak mengawali Millenium III ditengarai akibat ponsel yang digunakan sebagai pemantik dan berkat Iptek. Kasus masuknya laptop ke penjara, juga diduga untuk merancang terorisme," ulas Manik.

"Tapi jangan lupa, berkat Iptek pula kehidupan jadi lebih mudah, efektif dan makmur. Namun sayang, konon ada sekelompok manusia yang menguasai segelintir bangsa menganggap diri mereka paling berhak dan paling bertanggung jawab atas keselamatan dunia yang sarat beban ini. Untuk itu, ditengarai, mereka merencanakan untuk mengeliminasi dengan berbagai cara sebagian penduduk dunia yang mereka sebut 'useless eaters'. Ironisnya, bangsa-bangsa di dunia ketiga yang sedang berkembanglah yang mereka sebut 'pemakan tak berguna' itu. Sebenarnya, merekalah pemegang Pedang Demokles itu. Agar bangsa ini tidak tereliminasi dan tetap tegaknya NKRI, hindarilah provokasi dan jangan saling cabik antarsesama komponen bangsa," ujar Kudil langsung meloncat ke ojek yang sudah lama menantinya.
* aridus

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/9/10/opini.html

Mengemudi dengan Ponsel Ancam Keselamatan

Kemajuan teknologi komunikasi informasi juga membawa sebuah dampak baru yang jarang dijadikan pertimbangan oleh penggunanya. Apalagi dampak yang diakibatkan dari penggunaan teknologi ini menyangkut persoalan keamanan penggunanya, tanpa disadari keadaan ini menjadi ancaman serius. Berbagai kemajuan teknologi memang memiliki risiko sendiri yang senantiasa harus menjadi pertimbangan.

Berbagai kemajuan teknologi memang memiliki risiko yang senantiasa harus dipertimbangkan ketika ingin digunakan. Cara kita menggunakan teknologi itu sendiri, karena ketidak pahaman atau malas membaca buku petunjuk, sering kali menjadi fatal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Contoh yang paling mudah dan sering kita temui sehari-hari yang berkaitan antara teknologi komunikasi informasi dan kecelakaan adalah menggunakan ponsel sambil menyetir. Sering kali kita terganggu dengan tingkah para pengemudi di jalanan raya yang mengganggu lalu lintas karena sopirnya ternyata asyik menggenggam ponsel di tangan kanan (atau kiri) dan sebelahnya di setir.

Yang lebih menyedihkan lagi, sering kali kita menjumpai pengendara sepeda motor yang sudah seenaknya berkeliaran di jalan raya (berada di jalur berlawanan, misalnya), masih sempat menggunakan ponselnya sambil mengendarai motornya.

Dan, sepertinya kita tidak peduli dengan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Kita pun tidak terlalu risau dengan nyawa sendiri atau orang lain walaupun angka statistik menunjukkan kecelakaan lalu lintas di Indonesia sejak tahun 2004 adalah pembunuh nomor tiga menyebabkan lebih dari 30.000 orang tewas.

Selama ini memang tidak ada statistik mengacu secara langsung korelasi antara kecelakaan lalu lintas dan penggunaan ponsel, misalnya. Namun, kalau kita lihat kehidupan kita sehari-hari, potensi kecelakaan yang disebabkan oleh penggunaan ponsel ketika sedang mengemudi pasti akan menimbulkan kecelakaan. Cepat atau lambat.

Argumentasinya sederhana saja. Bagaimana kita akan bereaksi di jalan raya kalau salah satu tangan yang seharusnya digunakan untuk mengendalikan kendaraan mobil atau motor, sedang sibuk menggenggam ponsel.

Solusi ponsel

Di beberapa negara, penggunaan ponsel ketika sedang mengemudi merupakan sebuah pelanggaran berat. Beberapa undang-undang lalu lintas di beberapa negara bahkan menganggap ilegal bila mengemudi sambil menggunakan ponsel.

Ini memang ironinya kemajuan teknologi komunikasi informasi. Kompas mencatat beberapa kasus kecelakaan akibat penggunaan teknologi ponsel.

Di antaranya adalah terjadinya tabrakan yang menyebabkan kerusakan kendaraan, karena pengemudinya sedang membaca atau mengirim SMS, atau sedang chat menggunakan pesan instan (menggunakan Yahoo Instant Messenger atau aplikasi sejenis) sambil mengemudi.

Selama ini banyak upaya yang disodorkan untuk menghindari terjadinya kecelakaan akibat penggunaan ponsel sambil mengemudi seperti hands-free.

Namun, solusi ini dianggap tidak nyaman karena kabel yang melilit mengganggu gerakan penggunanya. Ada juga solusi menggunakan earphone memanfaatkan teknologi Bluetooth yang nirkabel dan sekarang menjadi aksesori yang marak ditawarkan kepada para konsumen.

Solusi ini memang tidak secara langsung terkait dengan masalah keamanan berkendaraan dan condong menjadi sebuah bagian dari gaya hidup mengikuti tren kemajuan ponsel itu sendiri.

Ponsel kendaraan

Belum lama ini Nokia memberikan sebuah alternatif lain memperkenalkan Nokia 616 Car Kit yang memiliki tampilan LCD dan pengeras suara. Perangkat bisa ditambahkan dengan perangkat genggam Nokia Handset HSU-4 berupa gangga telepon dengan tombol angka dan pengendali yang bisa diputar 360 derajat.

Pemasangan unit ini juga mudah hanya sekitar satu jam untuk semua jenis kendaraan. Unit utama Nokia 616 (Input CUW-3) berupa tombol putar (Navi Wheel) yang mengendalikan seluruh aktivitas ponsel.

Tampilan layarnya dengan huruf yang besar memudahkan untuk membaca pesan singkat SMS dan lebih cepat mengetahui pesan yang disampaikan.

Yang menarik dari perangkat Nokia 616 ini, fitur yang memungkinkan menggunakan dua profil memungkinkan dua pengguna ponsel berbeda menyimpan daftar telepon atau fitur lain seperti perintah suara (voice tag).

Masing-masing pengguna bisa menyimpan sekitar 1.000 daftar telepon (satu alamat dengan lima nomor telepon) dari ponsel lain yang kompatibel. Dengan fasilitas Bluetooth yang dimiliki oleh unit ini, panggilan telepon bisa dilakukan menggunakan telepon lain selain unit Nokia 616 yang memiliki SIM Card sendiri.

Misalnya, panggilan yang masuk dari ponsel Nokia 9300 yang sudah terkoneksi melalui Bluetooth ke unit ini dengan profil yang sudah ditetapkan, akan langsung berdering di Nokia 616. Fitur ini sangat memudahkan ketika menerima panggilan masuk ketika sedang berkendaraan.

Ketika kita meninggalkan kendaraan, panggilan masuk kembali ke Nokia 9300 seperti biasa. Ketika kita kembali ke mobil, Bluetooth yang sudah dikenali akan segera memindahkan semua panggilan kembali ke Nokia 616.

Reaksi melambat

Kendali Nokia 616 untuk mengirim pesan singkat SMS ketika sedang menyetir, misalnya, dengan mudah tombol Navi Wheel yang berputar memilih abjad-abjad yang ingin dipilih. Pengemudi tidak perlu menekan tombol-tombol angka yang selama ini dikenal ketika mengirim SMS.

Pembicaraan telepon pun mudah dilakukan karena pengeras suara yang jelas terdengar di dalam interior mobil (walaupun duduk di kursi belakang). Mikrofon pun mampu meneruskan suara secara jernih dan jelas.

Nokia 616 memang bukan sebuah solusi mencegah terjadinya kecelakaan ketika sedang mengemudi. Karena berdasarkan riset yang dilakukan Transport Research Laboratory di Inggris, ditemukan bukti baru bahwa menggunakan ponsel atau bertelepon ketika mengemudi jauh lebih berbahaya dibandingkan mengemudi di bawah pengaruh alkohol.

Menurut riset tersebut, 50 persen reaksi para pengemudi langsung menjadi lambat ketika mengendarai sedan secara normal sambil bertelepon. Dan, memang ketika mengemudi, tidak ada aktivitas lain yang harus dilakukan selain mengemudi itu sendiri. [Rene L Pattiradjawane]

Sumber : kompas.co.id Edisi Cetak Senin, 23 Januari 2006.
ponsel mania.com


http://www.lubuklinggau.go.id/ind/detail_artikel.asp?Id=174

Benarkah Radiasi Ponsel Ganggu Kesehatan?

Bagi kebanyakan masyarakat, ponsel sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan kita. Dari hari ke hari jenisnya semakin bertambah dengan kemampuan yang juga semakin meningkat. Banyak perusahaan jasa telepon seluler belakangan ini menggunakan frekuensi 1.800 MHz, jauh lebih tinggi dibandingkan frekuensi sebelumnya yang hanya 900 MHz. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan frekuensi tinggi, khususnya perambatan gelombang. Selain itu, pada frekuensi 1.800 MHz saluran yang tersedia juga lebih banyak. Namun, keadaan tersebut sebaiknya harus kita waspadai sejak dini.

Banyak pemakai ponsel yang resah dengan isu ancaman kesehatan akibat ponsel. Contoh isu tersebut yaitu radiasi ponsel diduga dapat menyebabkan tumor otak, namun hasilnya belum diketahui secara pasti hingga kini. Tudingan lainnya yaitu ponsel dianggap dapat mengganggu peralatan mesin pacu jantung dan alat bantu pendengaran.

Hasil penelitian membuktikan adanya dua penyebab terjadinya kasus tersebut. Yang pertama dituding adalah electromagnetic compatibility (EMC). Emisi energi dari ponsel memang dapat mengganggu peralatan elektronik, seperti alat pacu jantung dan alat bantu pendengaran. Kedua, gangguan datang dari electromagnetic radiation (EMR), yang diduga menyebabkan penyakit kanker. Penelitian yang dilakukan di University of Washington, pada tahun 1996 menemukan bahwa EMR dalam bentuk energi gelombang mikro rendah (seperti yang dihasilkan ponsel) dapat merusak struktur DNA.

Memang, dampak besar gelombang yang timbul akibat penggunaan ponsel masih menjadi perdebatan hingga kini. Perdebatan kasus tersebut berlangsung terus-menerus dan tanggapan para ahli yang silih berganti terkadang membuat kita menjadi bingung. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, dampak gelombang elektromagnetik dari ponsel sebenarnya tidak berbahaya asalkan pancarannya kecil. Namun, seberapa kecil ukuran pancaran itu, masih belum jelas hingga kini. Setidaknya kita harus lebih waspada untuk menyikapi kasus tersebut.


gw resume dari:http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=845

Mengapa Dilarang Hidupkan

MENGGUNAKAN ponsel di dalam pesawat terbang baik sedang mengudara maupun ketika pesawat sedang berada di darat berpotensi membahayakan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat. Di samping itu, juga melanggar kepantasan dan tatakrama.
Menurut peraturan FAA (Federal Aviation Administration) mengaktifkan ponsel di dalam pesawat terbang bukan saja selama penerbangan adalah pelanggaran hukum (illegal) dan dapat dihukum atas dakwaan membahayakan keselamatan umum.

Sering kita lihat di pesawat, begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, segera orang-orang mengaktifkan ponselnya. Para "pelanggar hukum" itu seolah-olah tak mengerti bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai dirinya dan penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuissance) terhadap kenyamanan orang lain.

Pada umumnya memang masih banyak yang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang.

Ponsel harus dimatikan, tidak hanya diswitch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat. Ini penting ditegaskan karena banyak orang menyimpulkan sendiri bahwa ponsel hanya berpotensi bahaya ketika pesawat mengudara.

Dengan memahami hal ini, kita menyadari bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik. Potensi kecelakaan masih dapat terjadi di darat ketika pesawat sedang bergerak menuju pintu embarkasi (gate) karena gangguan komunikasi.

Sebenarnya, secara teknis penggunaan ponsel di dalam penerbangan lebih mengganggu sistem telekomunikasi di darat (terrestrial) ketimbang gangguan pada sistem pesawat terbang. Seperti kita ketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio, melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station).

Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).

Overloading terhadap BTS karena penggunaan ponsel di udara dapat sangat mengganggu para pengguna ponsel di darat. Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?

Beberapa tragedi

Sejumlah tragedi telah terjadi akibat terus menyalakan ponsel di pesawat. Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja lepas landas dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraungraung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.

Boeing 747 Qantas tibatiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang final approach untuk mendarat di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masingmasing (The Australian, 2391998).

Daftar ini masih dapat diperpanjang lagi. Mereka yang tak peduli akan keselamatan dirinya, dan penumpang lainnya, boleh saja terus bersikap tak peduli akan larangan mengaktifkan ponsel dalam pesawat. Tetapi seorang kapten tentara Arab Saudi dihukum cambuk 70 kali karena kedapatan menyalakan ponsel di dalam pesawat.

Seorang teknisi Inggris dijebloskan ke penjara selama setahun karena menolak permintaan pramugari British Airways untuk mematikan ponselnya.

Sekiranya kita terbang, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting.

Tetapi, demi keselamatan sesama dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang. Aktifkan ponsel Anda setelah Anda berada di gedung terminal. (m18/WIKg) ()


gw resume dari:http://www.waspada.co.id/seni_&_budaya/tirai/artikel.php?article_id=60909

Sejarah Ponsel

10 Maret 1876
Alexander Graham Bell menemukan telepon di Boston, Massachusetts, AS. Namun, sejarah telepon selular sendiri dimulai sebelum zaman penemuan mesin telegrap.

1877
Telepon digunakan pertama kali dengan jarak 4,8 km. Masyarakat AS mulai menikmati layanan telepon komersial.

1879
Sistem penomoran pelanggan telepon (misal 735 bla bla bla) dimulai.

1880
Dial phone ditemukan oleh Almond Brown Stroger. Cara ini membuat sistem operator perlahan ditinggalkan. Sementara itu, tahun ini juga Bell dan sepupunya mulai mengembangkan transmisi suara melalui cahaya, yang disebutnya sebagai photophone.

1900
Telepon koin pertama dipasang di Harford, Connecticut. Mungkin ini bisa dipandang sebagai ditemukannya ide telepon prabayar.

1906
Dr. Lee De Forest mengembangkan "Audion" untuk memperkuat sinyal radio menjadi suara. Pada tahun ini juga, sebuah percobaan transmisi radio pertama sejauh 17,7 km berhasil dilakukan oleh Reginald Fessenden.

1910
Lars Magnus Ericsson (pendiri Ericsson) dan istrinya menguji coba sebuah telepon mobil pertama di Swedia. Satu dekade kemudian ia dan beberapa perusahaan lainnya mendirikan perusahaan teknologi wireless.

1920
Kantor polisi Detroit, AS, memulai eksperimen transmisi satu arah sistem telepon berbasiskan radio.




1998
Excelcom dan Satelindo ikut serta mengeluarkan kartu prabayar. Krismon mendorong banyak pemakai kartu pascabayar untuk rajin ber-SMS tanpa lintas-operator.

1999
Jumlah pengguna ponsel di Indonesia mencapai 2,5 juta pelanggan dan sebagian besar adalah adalah pengguna prabayar.

2000
SMS mulai "meledak".

2001
Ketiga operator nasional GSM memulai layanan SMS lintas operator. Tak lama sesudahnya Telkomsel dan Satelindo memulai layanan dual band. Layanan GPRS kabarnya akan dioperasikan tahun ini juga.



gw resume dari :http://www.komputeraktif.com/laporan.asp?tahun=2001&edisi=9&file=laporan4

Mo beli HP second ?

Anda tipe pembosan yang hobi gonta-ganti ponsel? Membeli ponsel bekas atau second, adalah alternatif yang bisa dipertimbangkan. Tapi, tentu saja agar Anda tidak merugi akibat membeli ponsel bekas, cermati tip berikut ini.

Ujilah ponsel bekas yang akan Anda beli. Telepon seseorang dan minta ia memberi masukan tentang suara Anda. Langkah ini penting dilakukan untuk meyakinkan bahwa fungsi speaker dan penerimaan ponsel masih baik.

Pastikan kekuatan baterai ponsel. Jika baterainya ternyata dalam kondisi tidak baik, Anda harus membeli sebuah baterai baru yang justru membuat harga ponsel tersebut menjadi lebih mahal.

Waspada membeli ponsel bekas yang tidak dilengkapi charger. Pasalnya, Anda harus memperhitungkan harga charger pengganti. Jika charger dan baterai ponsel tergolong tua atau sulit didapat, harganya juga menjadi lebih mahal

Periksa nomor IMEI (biasanya tercantum pada label yang ada di bagian belakang ponsel, di bawah baterai). Jika nomor IMEI tidak ada, Anda bisa mengetahui dengan cara menekan *#06# pada keypad ponsel, maka momor IMEI handset tersebut akan tampil dilayar ponsel. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa mainboard di dalam ponsel masih asli atau telah diubah, dengan mencocokan nomor yang tampil di layar dan yang tertera pada label IMEI.


Jangan cepat terpana pada tampilan luar ponsel yang tampak bagus, karena fisik ponsel yang terlihat baru tidak menjamin ponsel tidak bermasalah. Apalagi saat ini cashing ponsel mudah diganti.


gw resume dari:http://www.conectique.com/trend_tips_solution/more_money/article.php?article_id=1499

Sabtu, 09 September 2006

Backing Vokal Blogku seorang Penjahat

Pepatah usang berkata 'ada udang di balik batu, dalam kasus tiga perusahaan Internet asal Amerika Serikat 'udang'-nya adalah Spyware. Sedangkan yang dijadikan 'batu' adalah download gratisan yang memikat pengguna seperti ringtone, lirik lagu, musik, hingga update keamanan untuk Internet Explorer.

Akibat ulah 'licik' itu, pengadilan Amerika Serikat pun menutup tiga perusahaan tersebut. Hal itu diungkapkan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat seperti dilansir detikinet Jumat (11/11/2005) dari berita Reuters.

Ketiga perusahaan itu adalah Aset Enternet Media Inc., Conspy & Co. Inc. dan Iwebtunes. Sebagai informasi, Aset Enternet Media Inc. dan Conspy & Co. Inc. berbasis di California. Sedangkan Iwebtunes berbasis di Ohio.

Menurut FTC, software jahat itu membuat aktivitas internet korban menjadi terganggu. Bahkan homepage korban pun dibajak. Tidak sampai di situ saja, software jahat itu juga membanjiri komputer korban dengan iklan pop-up yang tak diinginkan.

FTC menambahkan, aset ketiga perusahaan itu telah dibekukan sambil menanti tindak pengadilan lebih lanjut. Bahkan pihak pengadilan telah memerintahkan agar ketiga perusahaan internet itu menghentikan download software yang bermasalah tersebut.

Menurut keluhan yang disampaikan ke pengadilan, Enternet dan Conspy membundel software jahat besutan mereka dengan file musik, lirik lagu dan ringtone ponsel. Semuanya ditawarkan secara gratis di berbagai situs.

Tidak hanya itu, mereka juga menyembunyikan Spyware dalam program yang berkedok sebagai upgrade keamanan untuk browser web Internet Explorer besutan Microsoft.

Satu perusahaan lagi, Iwebtines, membundel spyware dengan sebuah program yang bisa memutar musik latar pada blog. Sekali dipasang pada komputer korban, Spyware tersebut akan sulit dibasmi.

Menurut FTC Microsoft, Google dan Webroot Software Inc. turut membantu penyelidikan ini. Sebagai tambahan, di AS saat ini sedang digodok Undang-Undang yang akan memperkeras hukuman bagi penyebar Spyware. (wsh/)
"gila !...aku nggak nyangka...untung saja spyware itu blom sempat mengacak -acak isi komputerku..!!...
pantas aja koq blog ku nggak ada backing vocalnya hehehe..ternyata backing vocalnya TERSANGKA