Selasa, 20 Juni 2006

Teknologi Diperdebatkan di Piala Dunia



Jakarta,

Penggunaan teknologi di Piala Dunia (PD) masih diperdebatkan. Di satu sisi, keterlibatan teknologi di PD dirasa perlu demi akurasi, tapi di sisi lain hal itu dinilai mengurangi seni pertandingan.Setelah piala dunia telah berjalan lebih dari seminggu, pro dan kontra seputar gol yang tidak disahkan wasit kembali terjadi.Pada 10 Juni 2006, di menit ke 40 sundulan pemain Argentina sudah masuk melewati garis gawang. Tetapi dengan cepat masih dapat ditepis oleh kiper Pantai Gading. "Apakah itu gol?", pikir para pemain Argentina. Tayangan ulang yang direkam dari salah satu stasiun televisi Jerman menganggap itu gol. Tapi, wasit menganggapnya bukan gol dan pertandingan kembali dilanjutkan.Itu adalah salah satu contoh kasus, yang memicu argumentasi perlu tidaknya pemakaian teknologi di Piala Dunia. Secara kasat mata, wasit tentunya memutuskan berdasarkan apa yang dia lihat dan rasakan dari pertandingan.Organisasi sepak bola internasional, Federation International Football Association (FIFA) sendiri masih mencari bentuk teknologi yang tepat untuk diterapkan di Piala Dunia."Teknologi yang kami cari, sampai saat ini belum kami temukan," tutur George Cumming, ketua komisi wasit FIFA, dan dikutip DetikInet dari Cnet News.com Selasa (20/06/2006).Bola PintarDalam perkembangannya, pencarian bentuk teknologi ini sampai pada apa yang dinamakan "smart ball" atau bola pintar. Idenya adalah membenamkan chip RFID ke bola yang dipakai dalam pertandingan.Pemakaian teknologi tersebut digagas atas kerjasama perusahaan teknologi asal Jerman Cairos Technologies dan perusahaan software Fraunhofer Institute for Integrated Circuits, serta perusahaan fesyen olahraga Adidas.Konsepnya, "smart ball" menggunakan jaringan penerima dari seluruh penjuru lapangan pertandingan, untuk melacak posisi bola, secara real time -- termasuk, kapan tepatnya bola tersebut melewati garis gawang. Informasi tersebut akan dikirim ke alat berbentuk jam tangan yang dipakai wasit, dalam waktu kurang dari satu detik.Para ofisial berharap teknologi tersebut akan dipakai di Piala Dunia kali ini. Tapi, setelah menjalani tes tahun lalu di turnamen Peruvian, FIFA mengumumkan bahwa sistem tersebut belumlah siap untuk dipakai di puncak turnamen. Tak jelas, apa alasan yang mendasari keputusan tersebut.Yang jelas, bagi beberapa pihak yang tidak setuju dengan penggunaan teknologi, menganggap pemakaian chip itu sebagai sesuatu yang berlebihan. Mereka menganggap hal itu akan membuat pertandingan menjadi tidak menarik dan berkurang rasa seninya.Sementar FIFA, telah melakukan pencarian bentuk teknologi sejak satu dekade lalu. Tak segan-segan, FIFA pun minta bantuan pada para peneliti di University of Glasgow di Skotlandia. Well... Kita tunggu saja teknologi apa yang muncul dari pencarian FIFA nantinya, yang tentu saja kita harapkan membuat pertandingan jadi lebih menarik. (ash/nks)(nks)
Komentar terkini (1 Komentar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar